MERDEKALAH



Merdekalah untuk orang orang yang masih terjajah oleh keadaan.
Yang masih merasa hidup ini kejam.

Merdekalah untuk orang orang yang masih menuntut keadilan.
Sebab ia tak mampu melawan kerasnya kehidupan.

Merdekalah untuk orang orang yang masih terikat zona nyaman.
Kau lupa, Indonesia memiliki ribuan kepulauan.

Dan, Merdekalah untuk orang orang yang masih bungkam tak bersuara.
Tuangkan suaramu dalam sebuah karya. Indonesia butuh itu.

Merdekalah, hidup tak selalu dijajah!

Bandung, 17 Agustus 2017, 12:31
Ditulis untuk MERDEKA!

Sebentar


Hari ini ku lepaskan tawa pada semesta.
Tapi sebentar, diujung sana ada merpati putih. Tak lama, ia terbang.

Hari ini ku bebaskan raga pada bentangan alam puncak Merapi.
Tapi sebentar, ada merpati disana.
Dia diam, lalu pergi.

Dan hari ini, merpati menghampiriku yang sedang meratap cakrawala.
Ia seakan berkicau, namun aku tak mendengar suara.
Senyap...

Ternyata, kau masih disini, kataku.
Mari bercerita, aku masih ada.

Bandung, 2 Agustus 2017 00:20
Ditulis sebelum semua hilang.

Kau Adalah Ombak



Kau ku ibaratkan sebagai ombak lautan
Mari ku ceritakan agar kau mengerti

Kau sangat indah untuk dinikmati
Sangat indah untuk dirasakan

Kau datang
Lalu pergi
Kembali datang
Pergi lagi
Begitu terus seperti ombak

Tak peduli apa yang akan terjadi nanti
Terpenting, aku begitu menikmati ini.

Namun, ketika aku masuk terlalu dalam pada keindahan dan kenyamanan ini
Aku terbawa arus...
Aku ditenggelamkan...
Aku dibuat tak bergerak,..

Hingga akhirnya
Aku terbunuh dalam keindahan dan kenyamanan, tanpa bisa menggenggammu.

Bandung, 11 Maret 2017
Ditulis dalam kesadaran bahwa ada yang tak bisa dimiliki.

Sajak Terbuka Untuk BEM Tercinta

Malam ini akan menjadi malam panjang yang seharusnya kita di temani sang bintang dan sinarnya rembulan. Namun, bintang dan rembulan malu melihat bahagianya kita. Sehingga ia di gantikan rintikan hujan yang telah mendahului sebelum air mata kita berjatuhan menghadapi perpisahan.
Malam ini adalah malam yang paling indah untuk kita berbincang dan bercerita. Karena setelah ini, kita akan menggendong setumpuk cerita yang takkan habis bila kita ceritakan.

Disini aku bertemu seseorang yang manis yang dimiliki oleh seorang gadis. Aku juga bertemu dengan wanita pemilik senyum manja dan laki laki yang tak kenal arti gila. Bahkan, aku bertemu orang orang yang mampu merangkul untuk bersama.

Aku adalah aku, kalian adalah kalian. Aku dan kalian telah menjadi kita. Dan dari kita, menjelma menjadi cinta.

Pada akhirnya  kita nanti akan bertepuk tangan membanggakan kebersamaaan. Padahal kita tahu, setelah ini kita akan bertemu dengan sebuah perpisahan.

Satu per-satu kita nanti akan berpisah. Entah kita akan kembali bertemu, atau kita telah sibuk menggapai cita cita. Namun, jangan pernah membenci perpisahan, karena dari perpisahan kita akan memiliki kisah yang baru. Dan kita akan belajar berharganya arti dari sebuah pertemuan.

Disini kita diajarkan bahwa dunia ini tidaklah keras. Dunia diciptakan bukan untuk orang-orang yang lemah. Hidup di dunia ini hanya butuh perjuangan. Jika kita tak pernah berjuang, maka kita akan di buang.

Aku kira, disini aku tidak pernah di bicarakan di belakang. Ternyata benar, mereka berbicara tentang aku di sampingku untuk menjelaskan arti sebuah kesalahan dan melangkah bersama menuju kebenaran. Kalian adalah orang yang selalu menegur aku ketika aku melakukan hal yang tidak benar, agar aku tidak merasa orang yang paling benar.

Aku juga disini belajar bahwasanya menyelesaikan masalah tidak harus dengan amarah. Dan mencari solusi tidak harus dengan emosi.

Sungguh orang orang yang merugi adalah orang orang yang tak menghargai pertemuan disini. Dia tak bisa beradaptasi lalu dia memilih untuk melepaskan diri.

Mungkin hanya ini saja yang bisa aku sampaikan, agar kalian tahu isi hati yang paling dalam.

Terimakasih kepada Kemenpora yang telah mengajarkan arti kebersamaan dengan semangat yang terus membara.
Terimakasih juga kepada Kementrian yang tak bisa di sebutkan satu per-satu, yang selalu mengingatkan bahwa kita tetaplah satu.
Dan untuk staff magang, meski hanya sebentar percayalah kalian juga patut untuk kita sayang.
Terakhir, terimakasih kita ucapkan kepada orang yang disebut Semut Kecil dan Kutu Senja, karena dari kalian lah yang membuat keluarga kecil hingga menjadi keluarga yang sangat kita cinta.

Salam hangat,
Seorang yang mencintai keluarga ini.

Keep Positive, Still ARTRACTIVE.



Bandung, 10 Desember 2016
Ditulis di bawah rintikan hujan

-Terimakasih BEM FIK-

Ruang Hampa




Rintik hujan mulai membasahi bumi senja
Angin rindu terus berhembus menandakan harapan untuk beranjak dari sini kian pupus
Kegelapan sepi seakan menutup langkah pujangga
Dan disini aku berada pada rumah yang dulu sempat ku singgahi
Rumah yang seolah mempersilahkan aku untuk kembali masuk

Aku mencoba melangkah memasuki rumah lama
Kini beberapa sudut telah retak dan diselimuti oleh sarang laba-laba
Satu per satu kisah yang pernah ada kembali menyapa
Membuat aku tersenyum sipu untuk memulai mengenangnya

Aku melangkah menuju ruang tengah. Tak ada lagi kursi kayu yang dulu menjadi tempat aku merasa tenang ketika aku ingin bercerita. Mungkin kursi kayu itu malu untuk beradu kisah denganku. Ku pikir, ada ruangan lain yang mampu begitu.

Lalu aku berpindah 10 langkah menuju ruang sebelah. Disana hanya ada meja yang dulu menjadi tempat aku berbagi canda tawa. Meja itu kini telah ditutupi debu-debu yang membuat aku canggung untuk kembali tertawa. Ku rasa, selama aku pergi, meja telah memiliki cerita sendiri tanpa aku di dalamnya. Aku harus pergi dari ruangan ini.



Aku melihat pada ruangan belakang, ada lampu yang berkelap-kelip seakan memanggilku untuk datang. Dengan cepat aku langkahkan kaki menuju ruangan tersebut. Ketika aku datang, lampu itu padam. Aku tak melihat apapun. Yang ada hanyalah kegelapan. Aku sebut ruangan ini adalah ruang harapan. Yang hadir memberikan harap, lalu pergi meninggalkan gelap.

Aku masih memaksakan hal-hal indah yang dulu sempat terjadi untuk datang lagi. Entah di ruangan manapun itu. Aku harus menemukannya agar aku merasa kembali nyaman untuk bersatu di rumah ini.

Langkah demi langkah. Aku tetap menelusuri setiap sudut ruangan. Tetap saja belum ada lagi tempat yang seperti dulu. Hingga akhirnya langkahku terhenti dalam sebuah ruangan. Aku menutup mata, menarik nafas dan benar-benar merasakan kenyamanan disini. Ruangan ini masih tertata rapi, bersih, dan suci. Mataku menjelajah ke dinding-dinding ruangan. Masih ada bingkai klise dari cerita lama. Pun, sayup sayup aku mendengar suara Messo Sopran dari ruangan ini, pemilik suara yang dulu menjadi temanku berbicara, temanku bercerita, hingga temanku tertawa. Aku bercerita-cerita pada ruangan ini tentang hal yang selama ini tanpa aku.

Di ruangan ini masih terdapat kisah yang membuat aku benar-benar masuk ke dalamnya. Benar saja, aku sedang terjebak dalam ruang rindu di rumah lama ini. Sehingga aku merasa nyaman berada di dalam rumah lama, lebih tepatnya pada ruangan rindu ini. Ruangan dimana tempat aku bisa merasakan kembali hal lama yang sebenarnya ruangan ini hanyalah ruangan hampa.

Aku harus beranjak dari ruang rindu ini. Karena makin ku sadari, sebenarnya ruangan ini hanyalah kosong. Tak ada apa-apa yang harus ku bawa. Aku meninggalkan rumah lama ini dengan sedikit tergontai-gontai. Memberhentikan pikiranku yang sedari tadi tetap berandai-andai.

Ketika aku sudah berada di luar rumah lama ini. Rumah itu hilang di terpa angin kenyataan, bahwasanya rumah ini bukan lagi tempat untuk ku tinggal.

Aku hanya bisa tertawa kecil menyadari semua ini. Karena ku tahu semua yang terjadi memiliki alasan. Tak lupa, hari ini aku ucapkan terimakasih pada semesta yang telah mempertemukan aku pada rumah lama, meski tanpa membuat kita kembali bersama.

Ternyata benar, rumah yang sempat kita tinggali akan berbeda ketika kita kembali lagi. Tak ada lagi meja, tak ada lagi kursi kayu. Yang tertinggal hanya cerita, yang terindah hanyalah rindu.


Ditulis pada saat di udara menuju ke kota Bandung
Palembang-Bandung, 30 Oktober 2016.

Taman Malam Itu

Sore itu gue sedang berada di salah satu tempat ngopi yang berada di pusat kota Jakarta. Gak banyak orang yang berada di cafe tersebut, namun terlihat melalui jendela banyak orang yang berlalu-lalang melintas. Ada orang yang berjalan sendirian seperti sedang mengetik pesan untuk seseorang diluar sana. Ada juga pasangan yang sedang tertawa seakan dunia milik mereka.

Tiba-tiba gue mendapatkan pesan dari Vanny, salah satu teman kampus gue. Tangan kiri memegang handphone, tangan kanan memegang gelas, sambil menyeruput kopi gue membaca pesan tersebut.

“Hai, kamu lagi dimana? Malam ini kamu harus nemenin aku pergi ke taman tempat biasa kita ketemu ya. Aku pengen cerita.”

Gue memberikan secarik senyuman setelah membaca pesan tersebut. Gue tau, dia pasti bakal cerita tentang seseorang yang katanya dia cinta. Lalu gue membalas pesan tersebut, “Oke”.

Karena senja sebentar lagi akan pergi, maka gue bergegas menuju lokasi yang di tentukan oleh Vanny. Kemacetan gak bisa dihindari kalo hidup di Ibu Kota. Terlebih sore menjelang malam seperti ini adalah jam-jam dimana orang pulang kerja. Gojek yang gue tumpangi berkelak-kelok melewati beberapa kendaraan agar bisa lebih cepat sampai tujuan. Gak sampe 3 hari 2 malam, akhirnya gue sampai tujuan tepat pukul 19.18.



Gue menuju kursi di pinggir taman yang di sinari oleh lampu-lampu. Gue lihat disekitar, yang terlihat hanya beberapa anak remaja yang sedang berkumpul bersama teman-temannya, dan Vanny masih belum datang.

Tiba-tiba ada seseorang yang memukul pundak gue dari belakang berbarengan dengan suara lompatan.

“Door. Hehehhee. Vanny datang.", Dia mengambil posisi duduk, “Udah lama nyampe sini?”

Gue melihat ke arah Vanny dan ke arah jam tangan, “Nggak kok, baru 2 menit 37 detik.”

Kami mulai bercerita-cerita. Gue bercerita tentang kehidupan magang, dia bercerita tentang liburannya. Sesekali kami juga meledek anak baru gede yang sedang pacaran di pinggir jalan.

“Hahhahaa liat tuh liat tuh.” Vanny menunjuk ke arah orang pacaran tersebut.

“Liat juga ituuu.” Gue menunjuk ke arah lampu taman yang gue samain dengan rambut remaja yang ada di taman itu.

“Sama ituu.”  Tunjuk Vanny ke arah pohon yang disamainnya juga dengan remaja yang memiliki rambut kribo.

“Hahhahhaha.” 

Kita menertawakan hal yang bagi orang biasa, namun bagi gue dan Vanny itu bisa menghasilkan ketawa yang luar biasa.

“Ky, aku mau cerita tentang dia.”

Gue menarik nafas, lalu mulai mendengarkan.

“Aku capek pacaran. Dia selalu gak bisa ngertiin aku. Aku pengen pindah kuliah kalo kayak gini. Terus gak ketemu dia lagi. Aku sedih kayak gini terus.”

“Emang ada apa?” tanya gue.

Vanny diam, lalu menoleh ke arah yang berlawanan dari posisi gue. Dia menyeka air yang mulai mengalir beberapa tetes dari matanya.

“Haii.” Gue memulai untuk menenangkan suasana kembali, “Kamu gak perlu nangis. Jangan terlalu dipikirin.”

“Nggak bisa, aku pasti kepikiran terus.”

“Nikmatin setiap proses hubungan kalian. Kalo kalian masih saling sayang, pasti ada jalan.”

Dia kembali diam.

“Kalo saling sayang???” Dia menoleh ke arah gue. Lalu kembali berbicara, “Kalo hanya satu yang pihak yang ngerasain itu gimana?”

“Cuma kamu yang tau itu.”

Diam kembali datang. Yang terdengar hanya klakson mobil yang berbunyi beberapa kali dan teriakan pengendara motor di jalan yang semuanya ingin cepat pulang.

“Ayok, lupain dulu masalahnya. Lupain masalah, bukan lupain orangnya. Selesaiin masalahnya, bukan selesaiin hubungannya.” Ujar gue.

Dia tersenyum.

“Jalan yuk, kemana kek. Jangan disini aja terus. Ntar kita disamain orang kayak lampu taman dan pohon.”

“Hayuk.” Dia mulai tertawa.

Kita berjalan mengitari sekitaran taman. Lalu gue dan Vanny memilih makan kerak telor yang berada di seberang jalan. Gue selalu berusaha agar tak ada lagi pembahasan tentang kesedihan setelah itu. Tawa kembali hadir dari muka Vanny.

Sebenarnya, hal seperti Vanny alami sering banget gue lihat dan bahkan pernah rasakan dulu. Disaat hubungan sudah berada diujung tanduk, kedua belah pihak seperti lebih mempertahankan egonya bahwa dia yang paling benar dan harus dimengerti, dibanding mempertahankan hubungannya yang sama-sama sudah dijaga sejak lama. Hingga akhirnya, mereka berpisah dan ada yang akan menyesal.

Jauh disana, rambu lalu lintas berganti merah, kuning, dan hijau. Disisi jalan ada juga anak kecil yang sudah tertidur lelap. Bulan seolah malu menampakkan dirinya malam itu. Sang bintang tampak berkerlap-kerlip menghiasi awan gelap. 

Dan gedung gedung mewah mungkin telah menjadi saksi, bahwa ada seseorang yang mencinta tanpa pamrih.



Jakarta, 20 Juli 2016, 03:44.