Sendiri Menghilang Pulang - Part 1

Pulang kampung adalah hal yang sangat dinantikan oleh setiap mahasiswa, terutama bagi para mahasiswa yang merantau. Saya adalah salah satu orang yang sangat menantikan untuk pulang kampung. FYI, saya sekarang sedang kuliah di Bandung dan kampung saya berada di Palembang. Teman-teman saya sudah berkali-kali pulang pergi dari Bandung ke kota asalnya, lah kalo saya udah berapa kali? Baru sekali balik ke kampung halaman.

Gak heran sih, teman-teman saya kampungnya ada yang di Bogor, Depok, Jakarta, Bekasi, dan kota lainnya yang ga jauh dari Bandung. Sedangkan Palembang yang berada di Pulau Sumatera jauh dari Bandung.

Tanggal 5 Juni alhamdulillah UAS di kampus saya udah selesai. Teman-teman saya langsung berlomba-lomba untuk pulang cepat. Ada yang langsung di jemput supirnya di depan kampus, ada yang langsung pulang besoknya, pokoknya selesai UAS mereka ingin langsung pulang. Mungkin yang di pikiran mereka pulang itu adalah surga dunia, padahal kan iya. Beda dengan saya, mulai libur tanggal 6 Juni tapi pulang 16 Juni! Gila kan! Saya lebih memilih untuk berpetualang terlebih dahulu. Tanggal 6, 7, dan 8 Juni saya dan 5 teman saya memilih untuk pergi mendaki Gunung Cikuray, Garut.

Setelah pulang dari Gunung Cikuray dan kembali ke asrama, masih ada beberapa mahasiswa yang berada di asrama. Mereka belum pulang karena mereka ingin menyelesaikan film dan file-file yang lagi mereka download. Alasannya sih kalo asrama sepi internet pasti cepet. Emang bener, tercatat kalo mahasiswa pada pulang kecepatan download bisa sampai 3 Mb/detik. Ada juga yang belum pulang karena mereka sibuk pindah-pindah dari asrama ke kostan dia yang baru. Masa asrama kami emang sudah habis akhir Juni ini. Makanya beberapa mahasiswa pada sibuk pindah-pindah. Tak terkecuali dengan saya. Saya juga sibuk kok. Sibuk tidur, dan bermimpi balikan sama mantan.......

Sedikit demi sedikit asrama benar-benar sepi, tersisa tinggal saya dan 1 teman lagi, Gelora namanya. Dia bukan Gelora Bung Karno ataupun Gelora Jakabaring. Tapi dia adalah Gelora Gustafa Rahman, berasal dari Bogor. Dia adalah teman 1 kamar saya yang sampai saat itu masih bertahan di asrama dengan saya. Dia belum pulang karena dia ingin menemani saya. Saya terharu dengan yang dia lakuin, kami berpelukan di depan asrama disaksikan oleh rumput-rumput yang bergoyang dan rintikan hujan yang membasahi kami. Terhanyut dalam tangisan, Gelora pun berbisik, “Ky, saya pulang besok ya”. Seketika Gelora saya lempar ke Gedung Sate.