Taman Malam Itu

Sore itu gue sedang berada di salah satu tempat ngopi yang berada di pusat kota Jakarta. Gak banyak orang yang berada di cafe tersebut, namun terlihat melalui jendela banyak orang yang berlalu-lalang melintas. Ada orang yang berjalan sendirian seperti sedang mengetik pesan untuk seseorang diluar sana. Ada juga pasangan yang sedang tertawa seakan dunia milik mereka.

Tiba-tiba gue mendapatkan pesan dari Vanny, salah satu teman kampus gue. Tangan kiri memegang handphone, tangan kanan memegang gelas, sambil menyeruput kopi gue membaca pesan tersebut.

“Hai, kamu lagi dimana? Malam ini kamu harus nemenin aku pergi ke taman tempat biasa kita ketemu ya. Aku pengen cerita.”

Gue memberikan secarik senyuman setelah membaca pesan tersebut. Gue tau, dia pasti bakal cerita tentang seseorang yang katanya dia cinta. Lalu gue membalas pesan tersebut, “Oke”.

Karena senja sebentar lagi akan pergi, maka gue bergegas menuju lokasi yang di tentukan oleh Vanny. Kemacetan gak bisa dihindari kalo hidup di Ibu Kota. Terlebih sore menjelang malam seperti ini adalah jam-jam dimana orang pulang kerja. Gojek yang gue tumpangi berkelak-kelok melewati beberapa kendaraan agar bisa lebih cepat sampai tujuan. Gak sampe 3 hari 2 malam, akhirnya gue sampai tujuan tepat pukul 19.18.



Gue menuju kursi di pinggir taman yang di sinari oleh lampu-lampu. Gue lihat disekitar, yang terlihat hanya beberapa anak remaja yang sedang berkumpul bersama teman-temannya, dan Vanny masih belum datang.

Tiba-tiba ada seseorang yang memukul pundak gue dari belakang berbarengan dengan suara lompatan.

“Door. Hehehhee. Vanny datang.", Dia mengambil posisi duduk, “Udah lama nyampe sini?”

Gue melihat ke arah Vanny dan ke arah jam tangan, “Nggak kok, baru 2 menit 37 detik.”

Kami mulai bercerita-cerita. Gue bercerita tentang kehidupan magang, dia bercerita tentang liburannya. Sesekali kami juga meledek anak baru gede yang sedang pacaran di pinggir jalan.

“Hahhahaa liat tuh liat tuh.” Vanny menunjuk ke arah orang pacaran tersebut.

“Liat juga ituuu.” Gue menunjuk ke arah lampu taman yang gue samain dengan rambut remaja yang ada di taman itu.

“Sama ituu.”  Tunjuk Vanny ke arah pohon yang disamainnya juga dengan remaja yang memiliki rambut kribo.

“Hahhahhaha.” 

Kita menertawakan hal yang bagi orang biasa, namun bagi gue dan Vanny itu bisa menghasilkan ketawa yang luar biasa.

“Ky, aku mau cerita tentang dia.”

Gue menarik nafas, lalu mulai mendengarkan.

“Aku capek pacaran. Dia selalu gak bisa ngertiin aku. Aku pengen pindah kuliah kalo kayak gini. Terus gak ketemu dia lagi. Aku sedih kayak gini terus.”

“Emang ada apa?” tanya gue.

Vanny diam, lalu menoleh ke arah yang berlawanan dari posisi gue. Dia menyeka air yang mulai mengalir beberapa tetes dari matanya.

“Haii.” Gue memulai untuk menenangkan suasana kembali, “Kamu gak perlu nangis. Jangan terlalu dipikirin.”

“Nggak bisa, aku pasti kepikiran terus.”

“Nikmatin setiap proses hubungan kalian. Kalo kalian masih saling sayang, pasti ada jalan.”

Dia kembali diam.

“Kalo saling sayang???” Dia menoleh ke arah gue. Lalu kembali berbicara, “Kalo hanya satu yang pihak yang ngerasain itu gimana?”

“Cuma kamu yang tau itu.”

Diam kembali datang. Yang terdengar hanya klakson mobil yang berbunyi beberapa kali dan teriakan pengendara motor di jalan yang semuanya ingin cepat pulang.

“Ayok, lupain dulu masalahnya. Lupain masalah, bukan lupain orangnya. Selesaiin masalahnya, bukan selesaiin hubungannya.” Ujar gue.

Dia tersenyum.

“Jalan yuk, kemana kek. Jangan disini aja terus. Ntar kita disamain orang kayak lampu taman dan pohon.”

“Hayuk.” Dia mulai tertawa.

Kita berjalan mengitari sekitaran taman. Lalu gue dan Vanny memilih makan kerak telor yang berada di seberang jalan. Gue selalu berusaha agar tak ada lagi pembahasan tentang kesedihan setelah itu. Tawa kembali hadir dari muka Vanny.

Sebenarnya, hal seperti Vanny alami sering banget gue lihat dan bahkan pernah rasakan dulu. Disaat hubungan sudah berada diujung tanduk, kedua belah pihak seperti lebih mempertahankan egonya bahwa dia yang paling benar dan harus dimengerti, dibanding mempertahankan hubungannya yang sama-sama sudah dijaga sejak lama. Hingga akhirnya, mereka berpisah dan ada yang akan menyesal.

Jauh disana, rambu lalu lintas berganti merah, kuning, dan hijau. Disisi jalan ada juga anak kecil yang sudah tertidur lelap. Bulan seolah malu menampakkan dirinya malam itu. Sang bintang tampak berkerlap-kerlip menghiasi awan gelap. 

Dan gedung gedung mewah mungkin telah menjadi saksi, bahwa ada seseorang yang mencinta tanpa pamrih.



Jakarta, 20 Juli 2016, 03:44.